Sunday, July 15, 2007

Inspirasi Bisnis : Bakmi Jogja

Di Samarinda, baru saja dibuka Bakmi Jogja. Mungkin, baru sekitar 1 bulan. Saya tidak tau itu franchise atau bukan. Lokasinya terlewati oleh saya setiap kali berangkat - pulang kerja. Setiap kali saya melewatinya, selalu ramai dengan pengunjung. Spontan, insting bisnis saya bertanya, apa yang membuatnya begitu digemari masyarakat Samarinda dalam waktu yang begitu singkat?

Terdorong oleh rasa penasaran (saya lebih tertarik dengan bisnisnya daripada rasa bakminya), saya pun mencobanya ketika pulang dari tempat kerja. Ketika saya datang, di bagian depan penuh dengan orang yang sedang mengantri untuk dibungkuskan. Di bagian dalam, penuh juga. Bisnis yang mantap, kata saya dalam hati.

Ternyata, Bakmi Jogja cuma menyajikan 3 menu, yaitu Mie Goreng, Mie Rebus dan Nasi Goreng. Semua harganya sama, 8000 rupiah. Minumannya pun hanya softdrink (Fanta, Teh Botol Sosro, dan Aqua botol tanggung) dengan harga yang juga seragam, 3000 rupiah. Rasa makanannya? Hmm... biasa saja. Tidak istimewa. Bahkan mungkin lebih enak Bakmi atau Nasi Goreng keliling yang biasa lewat di depan rumah. Lalu, apa yang membuatnya laris luar biasa?

Saya akui, owner Bakmi Jogja ini cukup cerdik. Sengaja dibuatnya pilihan menu yang sedikit, jadi tidak ribet. Belanja bahan baku lebih mudah. Pelayanan kepada konsumen pun jadi lebih cepat, karena memasaknya juga bisa banyak porsi sekaligus. Ketika menghitung bill-nya pun bisa cepat. Cukup bertanya, makannya berapa, minumnya berapa. Karena semua harganya sama.

Memang belum terbukti, apakah Bakmi Jogja akan tetap laris seperti sekarang ini untuk waktu-waktu yang akan datang. Namun, terlepas dari itu, saya tetap salut dengan strateginya yang irit menu itu. Saya bahkan tidak malu-malu untuk meniru model bisnisnya untuk diterapkan pada bisnis saya nanti. Pokoknya ATM (Amati, Tiru, Modifikasi) saja. Tentang marketingnya yang membikin laris manis itu? Gampaaang.... semuanya sudah diajarkan Pak Tung DW dan Pak Purdie Chandra. Tinggal actionnya saja.